Menghabiskan Makanan Di Piring Bentuk Tindakah Ramah Lingkungan

Menghabiskan Makanan Di Piring Bentuk Tindakah Ramah Lingkungan

Orangtua zaman dulu sering berkata kalau melihat anaknya tidak menghabiskan makanan di piringnya, "Nanti Dewi Sri marah loh dan tidak mau menyediakan lagi rezeki untuk kita". Seringnya, sang anak akan memandang remeh dan mengabaikan, apalagi banyak dari mereka tidak kenal siapa Dewi Sri yang dalam kisah mitos adalah dewi pembawa rejeki.

Para ibu dan ayah zaman sekarang tidak lagi mengatakan hal demikian. Kebanyakan yang menjadi orangtua masa kini adalah sang anak yang tidak mengacuhkan mitos seperti itu. Jadi, jangan harapkan generasi millenial akan mau mengadopsi yang seperti ini juga.

Tetapi, sebenarnya, kisah mitos di masa lalu untuk mendorong anak-anak menghabiskan sarapan atau makan siangnya memiliki "kebenaran" jika dilihat dari sudut lain, sisi pandang tentang kelestarian dan keramahan pada lingkungan.

Makanan yang tersisa di piring akan terbuang menjadi sampah dan itu menghasilkan banyak efek yang kerap tidak terbayangkan, seperti :

  1. Setiap sampah, apalagi yang organik seperti sisa makanan akan membusuk dan mengeluarkan gas Metana. Gas ini dikenal sebagai gas yang memiliki efek rumah kaca yang sangat berpengaruh terhadap perubahan iklim dan pemanasan global. Semakin banyak gas metana yang dilepas ke atmosfer, semakin besar efeknya terhadap lingkungan. Perubahan iklim bisa menyebabkan juga permasalahan dalam hal lingkungan yang berakibat pada berkurangnya produksi pangan
  2. Lingkungan berkorban secara percuma. Banyak yang menyepelekan pengorbanan alam dalam untuk menghadirkan sepiring makanan di rumah. Kerusakan tanah akibat pemakaian pupuk buatan, suplai air yang tersedot untuk irigasi, berkurangnya suplai oksigen karena pohon ditebang untuk dijadikan lahan pertanian, semua menjadi tersia-sia ketika hasilnya tidak dimanfaatkan oleh manusia. Sisa makanan di piring adalah salah satu bentuk menyia-nyiakan segala pengorbanan alam untuk manusia
Bukan berarti manusia harus menelan sisa makanan seperti tulang ikan, tulang ayam, sayur yang tidak enak. Bagaimanapun hal-hal seperti itu bisa membahayakan manusia kalau dilakukan.

Tetapi, manusia harus terus berusaha melakukan efisiensi dalam kehidupannya dalam berbagai hal termasuk dalam urusan penting seperti makanan. Ia harus bisa melakukan berbagai upaya agar tidak ada sesuatu yang tersia-sia.

Caranya banyak dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan, seperti :

  • Tidak perlu mengambil makanan berlebih saat makan. Ambil secukupnya dan baru ketika dirasa kurang, piring bisa diisi kembali
  • Seorang ibu rumah tangga tidak perlu memasak terlalu banyak dan disesuaikan dengan kebutuhan para anggota keluarga
  • Tidak perlu memasak terlalu banyak jenis, tetapi enak dan diminati oleh anggota keluarga karena berarti memperbesar peluang tidak termakan
Jangan pernah berpikir bahwa karena kita sudah membayar untuk makanan yang kita makan, semua selesai sampai disitu. Alam, lingkungan tidak menerima uang. Mereka hanya bereaksi berdasarkan apa yang dilakukan manusia kepada mereka.

Berapapun uang yang bisa dibayarkan seseorang, tetap tidak akan bisa menghentikan gas Metana untuk masuk ke dalam atmosfir dari sampah sisa makanan, dan tentunya tidak bisa mencegah perubahan iklim.

Kesadaran manusia terhadap hal kecil seperti menghabiskan makanan di piring lah yang bisa membantu dan mengurangi, dibandingkan segepok uang.

Oleh karena itu, sebelum meletakkan nasi di piring, pastikan bahwa Anda akan mampu menghabiskannya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Menghabiskan Makanan Di Piring Bentuk Tindakah Ramah Lingkungan"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel