Mengapa Sampah Plastik Menjadi Musuh Lingkungan


Sebuah kabar menyedihkan sebenarnya. Beberapa waktu yang lalu terdengar kabar berita bahwa kantung plastik kembali digratiskan karena pelanggan merasa tidak jelas tentang kemana uang Rp. 200.- yang harus dibayarkan konsumen.

Ironis. Hanya karena uang yang bahkan untuk membeli sebutir permen saja tidak cukup, sebuah aturan yang sangat baik harus diabaikan dan dihilangkan. Padahal inti dari kebijakan tersebut untuk membangkitkan kesadaran pada masyarakat tentang betapa berbahayanya sampah plastik bagi lingkungan, dan tentunya kehidupan manusia.

Rupanya, masih banyak sekali orang Indonesia yang lebih suka uang 200 rupiahnya selamat dibandingkan lingkungannya.

Sebuah sikap yang sangat mencerminkan masih rendahnya kesadaran terhadap lingkungan dalam masyarakat Indonesia.

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena sebenarnya sampah plastik memiliki satu sifat yang sangat berbahaya dan menimbulkan pencemaran bagi lingkungan hidup.

Mayoritas plastik yang beredar di Indonesia, terutama sebagai bahan kemasan makanan dan minuman, serta kantung belanja, terbuat dari PolyEtylene yang tidak bisa terurai secara biologis. Organisme-organisme pembusuk di dalam tanah tidak bisa menguraikan bahan yang merupakan turunan dari minyak bumi itu.

Dalam berbagai penelitian ditemukan bahwa plastik memang bisa terurai, tetapi tidak secara biologis. Sampah plastik bisa berubah menjadi partikel-partikel kecil dengan bantuan sinar matahari. Kalau dibiarkan begitu saja, maka dibutuhkan waktu yang bervariasi antara 10-100 tahun untuk menyelesaikan prosesnya.

Begitu proses penguraian selesaipun bukan berarti masalah selesai. Partikel-partikel kimia hasil proses tersebut akan menjadi racun yang mencemari tanah. Tentu saja hal ini akan berakibat langsung terhadap kesehatan dan kesuburan tanah. Bila diserap oleh tanaman pun berbagai partikel kecil ini bisa juga mmepengaruhi kesehatan manusia.

Silakan lihat salah satu sumbernya di sini .

Oleh karena itu untuk mencegah rusaknya lingkungan karena sampah plastik, satu-satunya cara adalah dengan mengurangi peredarannya dalam masyarakat.

Pemakaian plastik memang tidak bisa dihentikan mengingat manfaatnya yang juga sangat besar bagi manusia. Murah dan mudah dibentuk adalah sebagian dari keunggulan yang ditawarkan bahan ini. Tetapi, efeknya pun tidak kalah berbahayanya.

Oleh karena itu, aturan mengenai kantung plastik berbayar itu sebenarnya sudah tepat untuk membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang bahaya yang disebabkan oleh penggunaan plastik.

Sayangnya, sifat dan karakter masyarakat Indonesia, yang ternyata sangat pelit ini justru akan membawa akibat buruk bagi lingkungan di Indonesia. Mereka lebih suka mempermasalahkan uang Rp. 200.- dibandingkan memikirkan keselamatan dan kelestarian lingkungannya sendiri.

0 Response to "Mengapa Sampah Plastik Menjadi Musuh Lingkungan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel