Udang Dari Ganggang? Kabar Bagus atau Kabar Buruk?


Siapa yang tidak suka makan udang. Kecuali tentu saja yang alergi terhadapnya, jarang orang menolak untuk makan hewan laut ini.

Lembut, gurih. Dalam bentuk makanan apapun, udang akan memberikan sebuah cita rasa tersendiri yang akan menggoyang lidah.

Tetapi pernahkah kita menyadari bagaimana udang didapatkan?

Dari laut? Sebagian ya. Dari tambak udang? Yap. Betul sekali. Kebanyakan udang yang beredar saat ini berasal dari pertambakan udang yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagian besar di antaranya diekspor dan menghasilkan devisa, sebagian kecilnya dijual ke pasaran dalam negeri.

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pengekspor udang terbesar di dunia. Pasar utamanya adalah Amerika Serikat dimana udang Indonesia berjaya dan menghasilkan devisa mendekati 100 juta Dollar per tahunnya.

Tetapi pernahkah kita menyadari apa yang menjadi tebusannya? Hutan Mangrove.

Kebanyakan tambak udang membutuhkan air payau, air yang merupakan percampuran antara air laut dan air sungai, untuk melakukan produksi. Oleh karena itu kebanyakan tambak udang akan berada di kawasan pessiir pantai dimana ada pertemuan antara sungai dan laut.

Wilayah pesisir ini pada saat bersamaan merupakan sebuah habitat di mana mangrove atau bakau tumbuh. Satu-satunya jalan agar lahan itu bisa dipergunakan sebagai tambak udang adalah dengan membabatnya dan menggantikannya dengan pertambakan udang.

Sayang sekali bukan begitu bahwa sesuatu yang enak ternyata mengakibatkan korban lingkungan yang cukup besar.

Udang Dari Ganggang 

Berdasarkan keprihatinan terhadap kelestarian kawasan hutan Mangrove inilah, sebuah perusahaan Amerika Serikat, New Wave Food melahirkan satu inovasi. Mereka menemukan bahwa ganggang dapat menghasilkan rasa yang sama dengan hewan laut kecil tersebut.

Bahkan, produknya yang akan dirilis tahun depan, 2017, disebutkan akan memiliki bentuk, dan juga rasa yang sama dengan udang asli. Tekstur udang karya New Wave Food ini juga akan memiliki kekenyalan yang sama dengan udang asli. 

Kalau soal warna merah saaat digoreng, hal itu tidak akan mengherankan karena ganggang adalah salah satu yang menyebabkan daging udang berubah merah saat dimasak.

Udang dari ganggang ini pernah diujicobakan di kantor Google tahun ini. Hasilnya, pesanan sebanyak 100 kilograms langsung diterima oleh perusahaan yang bermotto "Sustainable Seafood" (Makanan Laut Lestari). Sesuatu yang menunjukkan bahwa udang dari ganggang ini bisa diterima oleh lidah.

Kabar baik atau kabar buruk?

Tergantung dari sudut pandang yang dipakai.

Bagi para penderita alergi seafood, vegetarian dan juga penderita kolesterol, udang dari ganggang ini akan memberi mereka kesempatan menikmati lezatnya udang tanpa harus takut alergi mereka kambuh. Begitu, pula bagi lingkungan karena berarti produksi udang yang merusak hutan mangrove akan menciut.

Itu kabar baiknya.

Kalau kabar buruknya?

Indonesia adalah negara penyuplai udang terbesar ke negara Paman Sam. Kalau produk udang hasil tambak-tambak di Indonesia mengalami penurunan permintaan, hasilnya pemasukan devisa akan mengecil. Begitu juga kehidupan warga Indonesia yang tergantung pada tambak-tambak tersebut jelas akan terganggu.

Mana yang lebih penting bagi Anda? Itu adalah sesuatu yang harus Anda putuskan sendiri. Kepedulian terhadap lingkungan memang seperti biasa akan terbentur dengan kepedulian kita terhadap sesama manusia.

Begitu pun dalam hal menyambut invovasi yang sebenarnya sangat baik ini, udang dari ganggang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Udang Dari Ganggang? Kabar Bagus atau Kabar Buruk?"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel