Mengenal Efek Rumah Kaca dan dampaknya pada kehidupan di bumi


Banyak dari kita sudah sering mendengar tentang istilah yang namanya  EFEK RUMAH KACA. Berbagai media massa, baik online, cetak maupun televisi seringkali mempergunakan istilah ini, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan isue pemanasan global dan lingkungan.

Tetapi, pernahkah kita mengetahui apa sebenarnya EFEK RUMAH KACA itu? Mengapa hal ini bisa menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi? Apa dampaknya bagi kehidupan manusia di dunia? Mengapa isu ini bahkan menjadi bahan pembicaraan penting dalam konferensi antar negara dunia?

Sedikit uraian singkat ini mungkin bisa membantu memahami mengenai hal itu.

Apa itu EFEK RUMAH KACA?

Pernahkah Anda berada di dalam sebuah rumah kaca di waktu malam hari? Kalau belum pernah, mungkin saya beritahukan sedikit. Udara di dalamnya terasa hangat/panas di malam hari. Meskipun udara luar dingin. Kalau Anda berada di dalam sebuah rumah kaca, Anda tidak akan menyadari hal tersebut.

Karena pemanas? Bukan. Rumah kaca jarang diperlengkapi dengan pemanas. Itu adalah efek yang akan selalu ada di dalam sebuah rumah kaca. Efek yang sama sudah diketahui para petani sejak lama, terutama mereka yang bertanam di kawasan dingin seperti pegunungan. Dengan menggunakan efek ini, tanaman tidak akan mati meskipun cuaca di sekitarnya sangat dingin.

Mengapa rumah kaca bisa memiliki efek demikian?

Sinar matahari yang terpancar di siang hari membuat permukaan bumi (daratan dan lautan) meningkat suhunya. Sementara di malam hari, ketika matahari tidak bersinar, tanah dan lautan yang tadinya menyimpan panas akibat sengatan matahari, melepaskan kembali energi panas ke atmosfir.

Di dalam sebuah rumah kaca, energi panas ini "terjebak" karena tidak bisa menembus kaca-kaca yang menyelimutinya. Hasilnya, energi panas itu akan berputar-putar di dalam ruangan saja.

Inilah yang membuat udara di dalam rumah kaca tidak berbeda jauh di saat siang maupun malam.

Petani-petani di kawasan Puncak Bogor mempergunakan plastik untuk memerangkap panas. Mereka memasang sangkar plastik pada tanaman. Tujuannya agar suhu yang biasanya sangat dingin pada saat malam hari di pegunungan akan dinetralisir oleh panas yang dilepaskan oleh tanah.

Lalu mengapa efek rumah kaca bisa mengakibatkan pemanasan global?

Sebenarnya istilah EFEK RUMAH KACA yang terkait pemanasan global bukan secara langsung dikaitkan dengan keberadaan rumah kaca.

Istilah ini mengacu pada sesuatu yang lebih besar, tetapi dengan pola yang sama.

Ingat kah kita bahwa bumi ini dilapisi oleh atmosfir? Atmosfir ini terdiri dari berbagai macam gas yang menyelimuti bumi pada ketinggian tertentu.

Secara normal atmosfir akan memantulkan 30% sinar matahari, tetapi ia juga cukup renggang untuk membiarkan energi panas yang dilepaskan permukaan bumi di malam hari untuk menembusnya secara perlahan. Dengan begitu ada keseimbangan antara panas dan dingin di permukaan bumi.

Kalau tidak ada atmosfir dan lapisan ozone-nya maka bumi akan terpanggang. Begitu pula pada saat malam maka suhu bumi bisa teramat sangat dingin.

Gas Penyerap Panas


Yang menjadi masalah sekarang adalah manusia melakukan pembangunan industri, juga mempergunakan kendaraan bermotor yang mengeluarkan gas buang seperti karbon monoksida, karbon dioksida., metana, Nitrogen Oksida dan berbagai gas lainnya.

Gas-gas ini memiliki sifat menyerap panas. Hal ini berbeda dengan gas yang biasa terkandung dalam atmosfir, dimana panas akan dibiarkan bercampur dan dilepaskan.

Dengan begitu banyaknya pelepasan gas penyerap panas ke udara, baik dari kendaraan bermotor atau pabrik, komposisi atmosfir pun berubah. Lapisan pelindung bumi ini, sekarang memiliki jumlah gas penyerap panas melebihi seharusnya.

Hasilnya, atmosfir berubah menjadi seperti kaca pada sebuah rumah kaca. Ia tidak lagi membiarkan panas yang dilepaskan permukaan bumi lewat. Gas-gas buangan yang bersifat menyerap panas akan menahan energi panas tersebut.

Dengan kata lain, energi panas yang seharusnya dibiarkan lewat dan lepas justru menjadi tersimpan dan berputar di ruang antara bumi dan atmosfir. Kondisinya mirip sekali dengan udara di dalam rumah kaca, hanya dalam ukuran yang jauh lebih besar.

Itulah mengapa istilah EFEK RUMAH KACA dipakai. Gas penyerap panas seperti ini pun kerap disebut dengan Gas Rumah Kaca.

Pemanasan global

Karena energi panas tidak memiliki jalur pelepasan, mereka akan berputar dan bersirkulasi di ruang antara permukaan bumi dan atmosfir. Akibatnya, sama seperti di dalam rumah kaca, temperatur atau suhu di permukaan bumi dan udara di atasnya akan meningkat.

Menurut penelitian, akibat pengaruh banyaknya gas Rumah Kaca yang dihasilkan manusia, suhu permukaan bumi meningkat 0.6 - 0.9 derajat Celcius dalam satu abad.

Angka yang terlihat kecil, tetapi dengan semakin penuhnya bumi dengan pabrik dan kendaraan bermotor, suhunya akan meningkat semakin cepat. Pembangunan industri dewasa ini lebih cepat dibandingkan abad yang lalu. Artinya semakin banyak gas berefek rumah kaca akan dilepaskan ke atmosfir.

Efek Pemanasan Global

Menurut penelitian, yang cukup mengejutkan, manusia mampu bertahan hidup pada suhu 55 deraat Celcius, dengan syarat ia cukup mendapat suplai air. Jadi ia tidak dehidrasi.

Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki ketahanan seperti ini. Dalam kasus Gelombang Panas di India tahun 2015 dimana lebih dari 2.500 orang tewas, suhunya baru mencapai 45-47 derajat Celcius saja.

Manusia biasanya akan merasa nyaman hidup dalam kisaran suhu antara 20-25 derajat Celcius. Bagi orang Indonesia suhu antara 28-34 derajat masih dianggap normal.

Bayangkan kalau suatu waktu akibat suhu permukaan bumi dan atmosfirnya terus meningkat hingga mencapai 40-45 derajat secara konstan. Serangan gelombang panas di India tersebut hanya berlangsung beberapa hari saja mulai 25 Mei hingga 3 Juni dan korban sudah sebanyak itu. Kalau setiap hari temperatur udara terus berada pada level 40 derajat, bisa dipastikan akan banyak sekali jatuh korban jiwa.

Bumi tidak akan lagi menjadi tempat yang nyaman untuk manusia.

Hal ini masih ditambah dengan satu hal yang tidak kalah berbahayanya. Banyak sekali gunung es raksasa di belahan bumi Selatan, benua Antartika. Gunung es terbesar bernama B-15 memiliki panjang 295 kilometer dengan lebar 37 kilometer. Luasnya mencapai 11.000 kilometer persegi, sebuah ukuran yang sama dengan 100 kali Kota Bogor.

Kalau suhu di permukaan bumi naik, perlahan tapi pasti maka es tersebut akan mencair. Efeknya, volume air yang berada di lautan akan bertambah dengan pesat dan mengakibatkan banyak daratan akan terendam air.

Bisakah Efek Rumah Kaca diatasi?

Banyaknya gejala yang menunjukkan efek rumah kaca bagi kehidupan manusia sudah bisa terlihat di berbagai tempat. Gelombang panas yang banyak timbul akhir-akhir ini merupakan salah satu dampaknya. Begitu pula dengan meningginya permukaan air laut yang menunjukkan pengaruh dari efek rumah kaca.

Semua ini menimbulkan kekhawatiran yang sangat besar bagi seluruh dunia. Oleh karena itu, isu pemanasan global menjadi salah satu isu yang selalu dibicarakan dalam berbagai konferensi tingkat tinggi antar negara.

Bagaimana menghentikan pemanasan global? Bagaimana mengurangi efek rumah kaca?

Jawabannya ternyata terletak pada maukah umat manusia merubah kebiasaan hidupnya? Maukah umat manusia menganggap alam dan lingkungan sebagai partner dan bukan sekedar obyek?

Salah satu penyebab semakin memburuknya efek rumah kaca disebabkan oleh volume gas penyerap panas yang semakin tinggi di atmosfir. Hal itu disebabkan oleh berbagai hal yang dilakukan manusia sendiri, seperti :


1. Penebangan hutan secara sembrono

Salah satu gas rumah kaca adalah karbon dioksida. Peningkatan gas ini di udara ditengarai karena berkurangnya jumlah hutan di dunia.

Padahal hutan, dengan pepohonannya merupakan alat paling efektif untuk mengurangi karbondioksida di udara. Pohon memerlukan gas tersebut untuk proses fotosintesisnya.

Mereka akan menyerap karbondioksida dari udara dan sebagai gantinya proses fotosintesis akan melepaskan oksigen ke udara.

Dengan pembabatan hutan untuk perumahan atau bisnis, jumlah pohon berkurang. Hasilnya kemampuan hutan menyerap karbondioksida berkurang banyak dan gas tersebut akhirnya tersedia dalam jumlah yang melebihi kebutuhan.


2. Polusi udara

Kenyamanan kita duduk di dalam mobil harus dibayar selain dengan uang juga dampak buruknya pada lingkungan. Begitu pula, dengan perkembangan industri dimanapun, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan juga harus dibayar dengan tingginya tingkat pencemaran udara.

Semakin sering kita mempergunakan kendaraan, semakin banyak volume gas rumah kaca yang dilemparkan ke atmosfir. Semakin banyak pabrik berdiri, produsen gas rumah kaca pun semakin banyak.

Dua hal ini adalah penyebab utama terhadap semakin memburuknya atmosfir bumi karena efek rumah kaca. Kalau dibiarkan terus berlangsung dan tak terkendali, efeknya akan dirasakan di masa yang akan datang.

Oleh karena itu butuh kesadaran seluruh umat manusia untuk berperan serta dalam mengendalikan berbagai hal yang berpotensi menambaj jumlah gas penyerap panas di atmosfir.

Caranya sederhana dan setiap orang bisa berkontribusi dan berperan serta. Hal yang bisa dilakukan bisa seperti :

Menanam pohon di lingkungan sendiri

Lucu terdengarnya, mungkin. Tetapi, kalau sebuah rumah memiliki satu pohon saja, jenis apapun di halaman rumahnya, maka kalau ada 1 juta rumah, berarti ada satu juta pohon. Jumlah penyerap gas panas akan bertambah.

Kalau ada 80 juta rumah di Indonesia, berarti ada 80 juta pohon. Bukankah akan sangat membantu mengurangi kadar karbondioksida di atmosfir Indonesia?

Lebih sering memakai kendaraan umum

Kalau memakai kendaraan pribadi, maka berarti sebuah tambahan produsen gas buang yang berbahaya tadi. Kalau menggunakan kendaraan umum, maka setidaknya jumlahnya tidak bertambah.

Mencegah dan mengurangi pembabatan hutan

Perli turun ke jalan dan ikut demonstrasi, tidak perlu sejauh itu. Tidak membuang-buang kertas saja sudah merupakan usaha untuk membantu hutan. Ingat bahwa kertas diproduksi dari kayu.

Kalau kita hemat memakai kertas, kebutuhan akan kayunya pun berkurang.

Apalagi kalau kita ikut menyuarakan agar pengelolaan hutan dilakukan dengan memperhatikan kelestariannya, jelas lebih baik lagi.

Masih banyak lagi cara untuk ikut serta dalam membantu mencegah efek rumah kaca bagi kehidupan.

Masalah utamanya sekarang, maukah manusia mengorbankan sedikit kenyamanannya untuk melakukannya? Hanya Anda yang bisa menjawabnya.

Maukah Anda?

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Mengenal Efek Rumah Kaca dan dampaknya pada kehidupan di bumi"

  1. mmmm... ternyata Pak Anton berternak Blog secara diam - diam yaa.. saya baru tahu nich..hehe..pantesan artikel di blog maniak menulis belum betambah - tambah,,,saya pikir kmaren Pak Anton sedang Cuti Menulis,,hehehe.

    Ohy kalau menurut saya ,,,lebih bagus bangunan rumah zaman dulu, tradisional, terbuat dari papan kayu dengan genteng dari tanah liat yang tidak berdampak besar terhadap pemanasan global

    ReplyDelete

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel