Apa itu Green Lifestyle atau Gaya Hidup Hijau ?


Green Lifestyle alias Gaya Hidup Hijau, istilah yang baru beberapa tahun belakangan ini menyeruak ke permukaan. Istilah yang mulai banyak dipergunakan oleh para pengembang perumahan, terutama di kota-kota sebagai salah satu penarik calon pembeli.

Sebenarnya, apa sih makna dari "Gaya Hidup Hijau" ini? Apa keuntungannya kalau menerapkannya? Mengapa semakin banyak slogan yang menyerukan agar semua orang mulai menerapkan gaya hidup seperti ini.

Pertanyaan yang wajar karena sejauh ini sokongan terhadap gerakan memasyarakatkan Gaya Hidup Hijau memang masih sangat minim. Gaungnya sering hanya terdengar ketika ada simposium, seminar, atau tentu saja kejadian heboh yang berkaitan dengan lingkungan, seperti banjir.

Barulah pada saat-saat itu, istilah ini dilontarkan oleh banyak orang selama beberapa saat, sebelum kemudian kembali tenggelam dan terlupakan.

Nah, mungkin tulisan kecil ini bisa memberikan sedikit gambaran kepada pembaca.

Makna Green Lifestyle atau Gaya Hidup Hijau dan contohnya

Mau pakai istilah bahasa Inggrisnya, boleh. Mau pakai versi Indonesianya un tidak masalah.

Kalau dijelaskan secara singkat, Gaya Hidup Hijau adalah sebuah gaya hidup yang didasarkan pada kesadaran untuk menjaga lingkungan. Masih akan ada banyak definisi lainnya, tetapi intinya adalah manusia harus sadar dan ikut menjaga lingkungan dalam kehidupannya.

Bentuknya tidak memiliki standar yang pasti. Masing-masing orang bisa tetap menjalankan kehidupan dengan cara yang diinginkannya, tetapi tetap harus memperhitungkan pengaruh tindakannya terhadap lingkungan.

Sebagai contoh, penggunaan kantung plastik untuk membawa bahan belanjaan dari supermarket. Hal ini sudah menjadi sesuatu yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Secara tidak sadar seringkali pembeli akan terbiasa, karena dimanjakan oleh penjual, untuk mendapatkan sebuah kantung plastik setiap ia berbelanja, bahkan dengan jumlah belanjaan sesedikit apapun.

Ini adalah sebuah gaya hidup NON-HIJAU.

Mengapa? Secara tidak sadar masyarakat terbiasa dan mendorong penggunaan sebuah benda yang bisa merusak lingkungan. Plastik adalah salah satu musuh bagi lingkungan.

Plastik memang mempermudah manusia, tetapi ada efek negatifnya terhadap lingkungan. Semua benda berbahan plastik membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dapat terurai dan kalaupun bisa terurai, hasilnya akan meracuni tanah.

Dalam hal ini, kebiasaan menggunakan kantung plastik menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum memasukkan unsur lingkungan dalam kehidupannya. Mereka lebih berpikr pada sisi kemudahan saja tanpa berpikir panjang dampak negatifnya terhadap alam dan lingkungan.

Untuk merubahnya menjadi sebuah Gaya Hidup Hijau, sebenarnya tidak sulit sekaligus sangat sulit.

Tidak membutuhkan sebuah tindakan yang rumit untuk menunjukkan bahwa kita memikirkan lingkungan dalam tindakan kita. Cukup dengan tidak meminta atau menolak memakai kantung plastik di saat tidak benar-benar perlu.

Seorang yang membeli sebotol minuman dalam kemasan, tidak perlu meminta atau bisa saja menolak pemberian sebuah kantung plastik untuk membawanya. Sesederhana itu tindakan yang diperlukan untuk menerapkan salah satu Green Lifestyle.

Tidak susah.

Tetapi juga sangat sulit.

Hal paling sulit untuk dilakukan adalah untuk merubah kebiasaan dan pola pikir. Gaya hidup hijau membutuhkan perubahan dalam mindset masyarakat untuk menekan seminimal mungkin segala sesuatu yang bisa berakibat rusaknya lingkungan.

Ya, seminimal mungkin. Tidak mungkin bisa dihilangkan semuanya karena justru akan mengganggu kehidupan manusia sendiri.

Menghilangkan pemakaian plastik akan membuat manusia mengalami kesulitan dan harus membayar terlalu mahal. Oleh karena itu, kata yang tepat adalah seminimal mungkin dan bukan menghilangkan.

Ini adalah salah satu contoh dari makna Green Lifestyle atau Gaya Hidup Hijau.

Tidak rumit kan?

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel